Minggu, 27 Mei 2012

SIFAT-SIFAT ALLAH MENURUT BEBERAPA FIRQAH Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Perbandingan Kalam Dosen pengampu: Drs. H. Amir Ghufron, M.Ag Disusun oleh : Farid Hermanto Sugianto FAKULTAS USHULUDDIN JURUSAN AKIDAH FILSAFAT INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA 2011   A. Pendahuluan Perjalanan Islam sebagai risalah yang dibawa oleh Muhammad telah berlangsung lebih dari empat belas abad lamanya. Al-Qur'an sebagai rujukan utama dalam khazanah keislaman selalu dikaji oleh semua lapisan masyarakat untuk melahirkan pemahaman tentang Islam. Dari kajian-kajian tersebut melahirkan berbagai pemahanan yang tidak sedikit menimbulkan pertentangan sebagaimana yang terlihat dalam sejarah perjalanan umat Islam selama lebih dari empat belas abad lamanya. Umumnya umat Islam mengakui akan perbedaan pendapat. Bahkan mereka meyakini bahwa umat Islam akan terbagi dalam tujuh puluh tiga golongan. Sebagaimana yang termuat dalam hadis Nabi bahwa umat Islam ini terbagi kepada tujuh puluh tiga golongan. Dalam khazanah Islam muncul dikenal satu golongan yang cukup mendapat tempat terhormat dalam umat Islam. Golongan tersebut adalah golongan salaf. Sering sekali setiap perdebatan tentang pemahaman keislaman dikembalikan dan dicarikan rujukan yang bermuara pada golongan tersebut. Sehingga tidak jarang golongan-golongan yang muncul dalam Islam mengaku bahwa merekalah golongan yang sesuai dengan ulama salaf, dari sanalah salah satunya muncul firqah-firqah dalam Islam. Munculnya firqah-firqah dalam Islam salah satunya terkait erat dengan pemahaman terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Secara global ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang terkait dengan sifat-sifat Allah. Perbedaan tersebut menimbulkan pertentangan yang serius antara berbagai aliran kalam seperti mazhab kalam Qodariyah, Mu;tazilah dan Maturidiyyah. B. Pembahasan Sifat-sifat Allah menurut beberapa firqoh 1. Aliran Mu’tazilah Firqah Mu’tazilah menolak semua sifat-sifat Allah . Menurut mereka Allah mengetahui kuasa hidup dgn dzat-Nya bukan dgn sifat-sifat-Nya krn kalau sifat-sifat-Nya berdampingan dgn kekekalan-Nya yg merupakan karakteristik-Nya yg khas berarti sifat-sifat itu pun ambil bagian dalam Dzat Allah. Mengenai kalam Allah mereka berpendapat bahwa kalam Allah itu bersifat temporal dan diciptakan . Ia terdiri dari suara dan huruf-huruf dan kemudian ia ditulis oleh manusia dan dgn demikian berarti Alquran itu makhluk. Lagipula segala yg bertempat dan diciptakan itu dinamakan makhluk dan tiap makhluk pasti akan lenyap . Mereka juga berpendapat bahwa iradah Allah mendengar dan melihat bukanlah merupakan kesatuan sifat yg terdapat dalam Dzat Allah. Mereka berbeda lagi pendapatnya ketika menerangkan makna-makna sifat dan cara-cara wujudnya sifat-sifat itu. Ini akan kami terangkan nanti. Mereka dgn tegas menolak bahwa Allah dapat dilihat dgn mata di hari akhir nanti di sorga. Mereka juga menolak kemungkinan deskripsi apa pun tentang Allah dalam bentuk anthropomorthis seperti misalnya Dia bertempat berbentuk berbadan bergerak berubah bergeser atau beremosi. Jadi ayat-ayat Alquran yg mendeskripsikan tentang diri Allah haruslah ditafsirkan secara metoforis. Begitulah menurut mereka apa yg dimaksud dgn Tauhid. Manusia Memiliki Kekuasaan utk Berbuat Baik dan Buruk serta Bertanggung Jawab terhadap Perbuatan-perbuatannya Itu Mereka sepakat bahwa manusia akan mendapatkan ganjaran atau siksaan di akhirat nanti semata-mata krn perbuatannya sendiri di dunia ini. Manusia tidak dapat menyalahkan Allah dalam perbuatan jelek yg dia lakukan krn kejahatan kezaliman kufur dan dosa tidaklah dinisbatkan kepada Allah krn jika Dia menciptakan perbuatan zalim berarti Ia zalim sebagaimana Ia menciptakan keadilan maka Ia pun Adil. Mereka sepakat bahwa Allah tidak berbuat kecuali kebaikan dan kebajikan. Dari segi hikmah-Nya Dia harus menjaga kemaslahatan para hamba-Nya. Adapun masalah “al-ashlah dan al-luthf” merupakan perkara yg masih mereka perselisihkan. Mereka menamakan hal ini dgn “al-’adlu”. Pelaku Dosa Besar Kekal di Neraka jika Tidak Bertaubat Jika seorang mukmin mati dalam keadaan mamatuhi hukum Allah dan bertaubat dia akan mendapat ganjaran dari Allah dan pahala sedangkan pemberian keutamaan adl sesuatu yg berbeda dari ganjaran dan pahala. Tetapi jika dia mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa-dosa besar yg dilakukannya dia akan mendapatkan siksaan yg kekal dari Allah meskipun siksaannya itu akan lbh ringan daripada siksaan terhadap orang kafir. Inilah yg mereka sebut dgn janji dan ancaman dari Allah. Seperti mazhab kalam yang lain, muk’tazilah berkeyakinan akan kemahaesaan tuhan. Menurut mereka, keesaan tuhan itu adalah “ tiada suatu apapun yang pantas menyertai keberadaan tuhan”. Yang dikhawatirkan mu’tazilah disini adalah jika tuhan memiliki sifat, sifat-sifat tuhan itu tentunya kekal sebagaimana kekalnya zat tuhan. Jika sifat-sifat itu kekal, yang kekal itu tidak hanya zat-Nya, tetapi juga sifat-Nya, oleh sebab itu, paham ta’addud al qudama’(berbilangnya yang kadim) muncul. Mu;tazilah percaya bahwa paham ini bisak merusak ajaran tauhid menjadi syirik, untuk menghindari kerusakan tauhid menjadi syirik, mu’tazilah akhirnya meniadakan sifat tuhan. Perkembangan paham mu’tazilah tentang pengingkaran sifat tuhan dapat dilihat dari pemikiran para tokoh mu’tazilah itu. Washil meniadakan sifat tuhan karena keberadaan sifat tuhan membawa paham adanya unsure bilangan pada tuhan. Unsure bilangan itu menunjukkan yang satu itu lebih dari satu. Orang yang berkeyakinan demikian adalah musrik. Dengan lebih filosofis, Abu al-hudzayl menyatakan bahwa jika tuhan bersifat, maka aka nada unsure susunan pada diri tuhan. Susunan itu membawa kepada adanya bagian-bagian. Bagian-bagian yang terjadi adalah zat dan sifat yang sama-sama kadim dan setiap yang kadim adalah tuhan. Disinilah, menurut abu al-hudzayl, paham syirik muncul karena zat dan sifat merupakan dua unsure yang membawa implikasi bahwa tuhan mengandung arti banyak. Oleh sebab itu, tuhan pasti tidak bersifat seperti manusia. Meski tuhan tidak bersifat, bukan berarti bahwa tuhan tidak mengetahui, tidak melihat, tidak berkuasa dan sebagainya. Namun, tuhan tetap mengetahui dengan zat-Nya, bukan dengan pengetahuan. Tuhan tetap melihat dengan zat-Nya, bukan dengan penglihatan. Tuhan tetap berkuasa dengan zat-Nya, bukan dengan kekuasaan. Abu al-Hudzal berkata: “ sesungguhnya tuhan maha mengetahui dengan ilmu, ilmu itu adalah Dia sendiri(zat-Nya) hidup dengan kehidupan, kehidupan itu adlah Dia sendiri (zat-Nya)” Disamping itu menurut al- Nazhzham, sifat-sifat tersebut harus terlepas dari tuhan karena keberadaanya membuat pengertian adanya tambahan pada diri tuhan. Allah mengetahui dengan zat-Nya dan dia terlepas dari kebodohan dan kekurangan. Dalam hal ini al-nazhzham berkata: “sesungguhnya sifat-sifat Allah itu adalah sifat salbiyyah (yang menunjukkan ketidaksamaan zat-Nya dengan mahluq), sifat-sifat itu tidak menimbulkan tanbahan bagi zat. Bila anda mengatakan, “sesungguhnya Dia maha mengetahui” berate anda telah menetapkan ilmu bagi Allah, ilmu itu adalah zat Allah sendiri, dan anda mengingkari kebodohan dari zat_Nya” Terdapat sebagian tokoh mu’tazilah(tidak diketahui namanya) yang mengatakan bahwa pemberian sifat kepada tuhan hanya bertujuan sekedar memberitahukan kepada manusia bahwa tuhan itu maha sempurna. Jadi, pemberian sifat-sifat itu bukan benar-benar adanya kepada tuhan, melainkan hanya sekedar metode untuk memperkuat keyakinan manusia kepada tuhan. 2. Aliran Asy’ariyyah  : Tentang Sifat-sifat Allah. Kelompok Asy’ariyyah hanya menetapkan tujuh sifat dzat: Ilmu, Qudrah, Iradah, Sama’, Bashar, Kalam dan Hayat; berdasarkan dalil akal semata. Adapun sifat-sifat khabariyyah, mereka takwilkan; seperti sifat istiwa’ (tinggi di atas arsy-Nya) mereka takwilkan dengan istila’ (menguasai). Mereka juga menolak atau mentakwilkan sifat-sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan masyi’ah; seperti sifat Nuzul (Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya)yang mereka takwilkan dengan nuzul-amrihi (turunnya keputusan Allah); sifat Tangan yang mereka takwilkan dengan qudrat atau nikmat dan lain-lain yang semisalnya. Menurut mereka, menetapkan sifat-sifat itu berdasarkan dzahir nash, berarti menjadikan Allah ber-jisim (tubuh) dan menyerupakan Allah dengan makhluk. Ahlus-Sunnah menetapkan semua sifat Allah yang telah Allah tetapkan sendiri untuk-Nya dalam al-Qur’an dan apa yang ditetapkan oleh Rasul-Nya dalam as-Sunnah tanpa tahrif, tasybih/tamtsil, takyif maupun ta’thil. Karena Allah telah menyatakan (yang artinya); “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura : 11) Dengan kaidah ayat ini, Ahlus-Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan kekhususan keagungan dan kebesaran Allah yang tidak bisa diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Dan ini berlaku untuk semua sifat Allah, tidak berbeda antara sebagian sifat dengan sifat yang lain. Karena menetapkan sebagian sifat Allah berarti mengharuskan untuk menetapkan sebagian sifat yang lainnya. Maka, jika mereka bisa menetapkan sebagian sifat, seperti Ilmu, Qudrat (kuasa/mampu), Iradat (keinginan/kehendak), Sama’ (pendengaran), Bashar (penglihatan), Kalam dan Hayat, mengapa mereka tidak bisa menetapkan sifat-sifat yang lainnya –dengan alasan bahwa menetapkannya akan jatuh kepada menyerupakan Allah dengan makhluk. Bukankah sifat-sifat yang mereka tetapkan seperti ilmu dan lainnya juga dinisbatkan pada makhluk? Maka berarti mereka sendiri telah jatuh pada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Kalau mereka mengatakan bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut hanya layak bagi Allah yang tidak sama dengan yang dimiliki makhluk-Nya. Maka mengapa mereka bisa mengatakan hal itu untuk sifat-sifat yang mereka tetapkan saja. Mengapa mereka tidak bisa mengatakan yang sama untuk sifat-sifat yang lainnya, dengan mengatakan bahwa menetapkan semua sifat-sifat Allah itu adalah hanya layak bagi Allah yang tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Jadi, dengan kaidah ayat diatas, bisa disimpulkan bahwa kesamaan lafazh sifat antara yang ada pada Allah dengan yang ada pada makhluk tidak mengharuskan kita menyerupakan hakikat antara sifat Allah dan sifat makhluk. Dan hakikat sifat-sifat Allah itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Wallahu a’lam. 3. Aliran Maturidiyah Sejalan dengan pemikiran al-Asyari, al maturidi mengatakan bahwa Allah mempunyai bebrapa sifat. Tuhan mahakuasa, maha mengetahui, dan lain-lain seperti yang terdapat dalam alquran. Rosulullah saw juga menjelaskan demikian. al –maturidi beralasan mengapa tuhan brsifat karena dia sendiri yang mengatakan bahwa dia maha kuasa, maha mengetahui, maha mendengar dan sebagainya. Dengan demikian, menurut al-maturidi, tuhan mengetahui dengan oengetahuan-Nya, bebrkuasa denga kekuasan-Nya, bukan dengan zat-Nya. Pemikiran tentang keberadaan sifat yuhan juga dipertahankan oleh al-Bazdawi. Ia berpendapat bahwa sifat tuhan itu tidal lain dari Allah. Tidaklah tergambarkan bahwa zat itu tanpa ilmu,qudrah, hayah dan sebgainya. Bila sifat itu tidal lain dari zat Allah berate tidak terjadi ta’addud al-qudama’. Ungkapa qudama’ sebenarnya keliru. Yang benar adalah ungkapan qodimun wahid. Oleh sebab itu, sebutan sifat-sifat itu hanya sekedar menunjukkan kesumparnaan zat tuhan. Pemahaman tentang keberadaan sifat-sifat tuhan tidak membawa orang kepada syirik. Dengan kata lain, harun Nasution menjelaskan bahwa persoalan banyak yang kekal karena keberadaan sifat-sifat sebenarnya terdapat dalam zat tuhan bukan kekalnya itu sendiri tidak kekal. 4. Jabariyyah dan Qodariyah Menurut Asy-Syahratsani, jabariyah dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, kelompok ekstrin dan moderat, diantara tokoh-tokoh jabariyah ekstrim , kaum jabariyah disebut sebagai kaum jahmiyah.Doktrin pokok Ja’d secara umum.Al-Ghuraby menjelaskan sebgai berikut: Alquran itu adalah makhluq. Oleh karena itu,dia baru.sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluq, seperti berbicara, melihat, dan mendengar. Manusia terpaksa Oleh Allah dalam segala-galanya, salah ssatu sifat Allah adalah Al-jabar yang berate Allah adalah maha yang memaksa ada yang mengistilahkan bahwa jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan tuhan dalangnya .disamping itu kaum jahmiah juga mengingkari adanya ru’ya( melihat Allah dengan mata kepala di akhirat) Sedangkan aliran Qodariyah suatu aliran yang percaya bahwa setiap tindakan manusia tidak di intervensi oleh Allah.orang-orang yng berpaham qodariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki kebebsan berkehendak dan memililki kemampuan dalam melakukan perbuatan, mencakup semua perbuatan, yakni baik dan buruk, Qodariyah menganggap Allah tidak bersikap adil terhadap manusia, jika perbuatan manusia diciptakan atau dijadikan oleh Allah mengapa manusia diberi pahala jika berbuat baik, dan disiksa jika berbuat maksiat dan dosa,doktrin qodariyah sebetulnya lebih luas dikupas oleh kalangan mu’tazilah, dan yang dimaksud dengan nama mereka menganggap Allah SWT. Itu benar-benar esa satu tanpa ditambah sifat apa-apa. Kalau yang berkuasa itu zat Allah, bukan Allah memilki sifat qodrat sebab menurut mereka kalau dikatakan bahwa Allah memiliki sifat, berarti Allah SWT itu tidak esa/satui. Apalagi kalau diakatakan bahwa Allah itu juga qodim, sebab jika demikian kata merekasifat Allah itu sama dengan zat-Nya sendiri. Kaum qodariyah mengatakan bahwa Allah itu Esa atau satu dalam arti bahwa Allah ntidak memilki sifat-sifat azaly, seperti ilmu, qudrat, hayatmendengar dan melihat yang bukan dengan zat-Nya sendiri. Tidak ada sifat-sifat yang menambah atas zat Allah, qodariyah mengatakan bahwa Allah itu lebih dari satu. 5. khawarij. Terlihat jelas dari kitab-kitab mereka, bahwa mereka meniadakan sifat bagi Allah, mereka tidak jauh beda dengan Mu’tazilah dalam mena’wilkan sifat-sifat Allah. Akan tetapi mereka mengklaim bahwa yang demikian itu karena berangkat dari sisi keyakinan, yang mana mereka berpendapat untuk menta’wilkan sifat secara majazi (makna yang bukan sebenarnya) agar memiliki makna yang tidak menimbulkan tasyabbuh (penyerupaan) dengan makhluk. Akan tetapi telah jelas bahwa kebenaran dalam hal ini tetap bersama ahlus sunnah wal jama’ah yang senantiasa mengikuti dalil, dalam penetapan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah Ta’ala sebagaimana yang telah Allah tetapkan begi diriNya tanpa ta’thil (meniadakan makna), takyif (menanyakan kaifiyah), tahrif (merubah), dan tanpa tamtsil (menyerupakan). Mereka mengingkari bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah di akhirat. Padahal telah jelas ditetapkan dalam Al-Qur’an, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah : 22-23) Menta’wilkan perkara-perkara yang ada di alam akhirat dengan ta’wil majazi (dengan makna yang bukan sebenarnya) seperti mizan, dan sirath. Bahwa perbuatan manusia adalah diciptakan oleh Allah dan hasil usaha manusia, dalam hal ini mereka tengah-tengah antara Qadariyah dan Jabariyah. Sifat-sifat Allah bukanlah tambahan atas Dzat Allah, akan tetapi sifat-sifat tersebut Dzat itu sendiri.,Al-Qur’an bagi mereka adalah makhluk, dalam hal ini mereka sepakat dengan khawarij. Pelaku dosa besar menurut mereka adalah ‘kafir kufur nikmat atau kufur nifaq’. Manusia menurut pandangan mereka ada tiga kelompok: Orang-orang mukmin yang melaksanakan keimanannya, Orang-orang musyrik yang jelas kesyirikannya. Dan orang-orang yang mengumumkan kalimat tauhid dan meyakini Islam akan tetapi mereka tidak iltizam terhadapnya baik akhlaq atapun ibadahnya. Mereka bukanlah orang-orang musyrik karena mereka mengikrarkan tauhid, mereka bukan juga orang-orang mukmin, karena tidak iltizam terhadap konsekwensi keimanan. Jadi mereka bersama orang-orang mukmin dalam hukum dunia karena ikrar mereka terhadap tauhid, dan mereka bersama orang-orang musyrik dalam hukum akhirat karena mereka tidak melaksanakan konsekwensi keimanan dan penyimpangan mereka terhadap kandungan tauhid berupa amalan (yang menyimpang) ataupun meninggalkan yang diperintahkan. Ahli qiblat yang menyelisihi mereka disebut kuffar yang bukan musyrik, boleh menikahi mereka, halal mewarisi harta meraka, harta ghanimah yang berupa peralatan perang seperti senjata, kuda dan yang semisalnya adalah halal dan harta selain itu adalah haram. Pelaku dosa besar adalah kafir, dan tidak mungkin dalam kondisinya bermaksiat dan terus-menerus diatas maksiatnya tersebut ia akan masuk surga apabila tidak bertaubat darinya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengampuni pelaku dosa-dosa besar kecuali apabila ia bertaubat darinya sebelum meninggal. Orang yang melakukan dosa besar maka ia disebut kafir (secara lafadz) yang maksudnya menurut mereka adalah kufur nikmat atau kufur nifaq bukan kufur dari agama. Dan bagi yang meninggal diatas dosa besar maka ia akan kekal dineraka jahannam, dalam hal ini mereka sama dengan khawarij dan mu’tazilah. Sedangkan yang benar adalah sebagaimana yang aqidah ahlus sunnah orang tersebut disebut ahli maksiat atau fasiq, dan ketika meninggal dalam keadaan beluum bertaubat dari maksiatnya maka ia ‘tahta masyi’atillah’ (dibawah kehendak Allah) apbila Allah berkehendak maka ia akan diampuni dengan kemuliaanNya dan apabila Allah berkehendak maka ia akan di adzab dengan keadilanNya sampai ia disucikan dari perbuatan dosa-dosanya kemudian dipindahkan ke surga. Mereka mengingkari syafa’at bagi ahli maksiat dari orang-orang yang bertauhid, karena ahli maksiat menurut mereka adalah kekal di neraka. Maka tidak ada syafa’at bagi mereka hinga mereka keluar dari neraka. Mereka meniadakan persyaratan ‘Dari keturunan Quraisy’ dalam masalah imam (kepemimpinan), karena setiap muslim layak untuk menduduki jabatan itu jika memenuhi syarat-syarat keimaman. Dan imam yang menyimpang harus dilengser dan di ganti yang lainnya. Sebagian mereka mengadakan penyerangan terhadap Amirul Mukminin Utsman bin Affan, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Amr bin Al-‘Ash radhiallahu ‘anhum. Imamah dengan cara washiat adalah bathil (menurut mereka), dan tidaklah pemilihan imam itu kecuali dengan cara bai’at. Tidak wajib khuruj (memberontak) kepada imam yang zhalim, tidak pula melarangnya akan tetapi membolehkannya. Dan apabila kondisi mendukung dan mudharatnya ringan maka hukum memberontak menjadi wajib, dan apabila kondisi tidak memungkinkan bahaya akan lebih besar, hasil tidak mungkin tercapai maka hukumnya menjadi dilarang. Bersamaan dengan itu bahwa memberontak tidaklah dilarang dalam kondisi apapun. Dan pemikiran-pemikiran menyimpang lainya. Kesimpulan Jadi dengan kaidah ayat diatas, bias disampaikan bahwa kesamaan lafaz sikap antar yang ada pada Allah dan yang ada pada mahkluq tidak menghapuskan kita menyerupakan hakikat antara sifat Allah dan sifat mahkluq dan hakikat sifat sifat Allah itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri Daftar pustaka  Ali Mudhofir, kamus teori dan aliran dalam filsafat Yogyakarta Liberty ,1988  Harun Nasution, Teologi Islam,aliran-aliran sejarah analisa perbandingan Jakarta :UI pres, 2008  Ibnu Rusd, perdebatan Utama teologi islam , jakarta :Erlangga ,2006  DR. Fuad Mohd.Fachruddin, sejarah perkembangan pemikiran dalam islam. Jakarta:CV Yasaguna, 1990  Abdullah,Lc. Mengenal aliran-aliran Islam dan cirri-ciri ajaranya, Jakarta: Pustaka Al-Riyadl,;2003  Syaikh Shalih Fauzan Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah. Dalam kitab Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah. Kumpulan Ulama. Daarul Ibnul Jauzi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar